8 Rahasia yang Disimpan Pewawancara Kerja

Saat sesi wawancara terselenggara, sebenarnya ada banyak kriteria yang menjadi penilaian bagi pewawancara. Artikel saduran berikut ini akan menjelaskan hal-hal yang bersifat “tersembunyi”, yang menjadi kunci untuk melewati sesi wawancara dengan sukses. Sharly Tan, penulis artikel ini, membeberkannya untuk anda berdasarkan pengalamannya sebagai seorang interviewer .


Pekerjaan yang selalu anda inginkan bisa didapatkan hanya dengan melewati sebuah wawancara. Sebelum pertemuan yang menentukan dengan pimpinan kerja yang “berprospek”, tidakkah anda menginginkan sebuah kesempatan untuk melihat lebih jauh ke dalam isi benaknya dan menemukan apa yang dia cari selama ini?

Berikut ini 8 rahasia untuk menyisihkan lawan dari kompetisi, membuat kesan yang mendalam dan memenangkan sebuah tawaran pekerjaan:

  1. Kebanyakan pewawancara menentukan jadi atau tidaknya untuk merekrut anda selama lima menit pertama.

    Bahkan bisa jadi lebih awal lagi. Seorang pria yang sedemikian mengesankan bagi seorang pewawancara saat sesi wawancara lewat telepon, akhirnya memenangkan sebuah tawaran kerja, bahkan sebelum sang pewawancara tersebut bertemu dengannya secara langsung.

    Detik-detik awal saat kontak terjadi juga sama menentukannya saat pertemuan secara langsung. Cara seseorang berjalan menuju kantor anda juga dapat mengungkapkan karakternya. Apakah ia ragu-ragu di kursi mana dia akan duduk? Ataukah dia duduk seketika, membuka kopernya, mengambil sebuah map dengan salinan resume yang baru? Hal seperti ini menunjukkan bahwa ia sungguh profesional.

  2. Pewawancara dapat menguji anda jika mereka curiga adanya kebohongan di dalam resume .

    Semua orang (sepertinya) terlihat baik di dalam resume yang mereka tulis, jadi pewawancara dapat menanyakan pertanyaan yang “menyimpang” seperti mengenai keterampilan dari pencari kerja yang paling tidak relevan, atau prestasi kerja terkecil yang pernah disebutkan. Karena seorang pelamar tidak mengantisipasi pertanyaan semacam itu, saya tidak akan memperoleh jawaban yang “standar”, dan akhirnya memiliki pertimbangan yang beralasan untuk mengetahui apakah dia memang benar-benar memiliki skill sebagaimana disebutkan dalam resume-nya.

    Sebuah uji “kejujuran” yang sangat populer adalah berupa pertanyaan, “Seperti apa hari-hari anda saat mengerjakan tugas kantor?” Semakin sederhana tugas yang anda sebutkan, semakin jujur jawaban tersebut bila didengarkan oleh pewawancara. Saya suka mendengarkan hal-hal kecil, seperti menjilat perangko atau membawa beberapa boks ke lift, karena hal-hal semacam itu tidak perlu disembunyikan dan terkesan bahwa pelamar tersebut akan melakukan apapun yang paling penting bagi perusahaan saat itu. Jika anda menaikkan posisi terlalu tinggi (dengan membeberkan berbagai macam pekerjaan yang dilakukan – seolah-olah sedemikian sibuk), maka anda akan beresiko mendengarkan balasan dari pewawancara: “Lalu apa yang bos anda kerjakan setiap harinya?”.

  3. Anda bisa lebih memikat pewawancara dengan memberikan jawaban yang “salah”.

    Apa yang saya tidak sukai adalah jawaban-jawaban standar yang “terdengar baik”, seperti “saya adalah orang yang dapat belajar secara cepat” atau “saya orangnya komunikatif”. Tiap orang dapat mengatakannya, dan saya tidak akan merekrut orang seperti itu.

    Malahan, sebuah perkataan yang selalu diingat, bisa jadi menjadi “faktor x” yang membuat anda memperoleh pekerjaan itu. Jika anda menghindari kata-kata “standar” atau gurauan yang “biasa-biasa saja”, dan mengucapkan sebuah jawaban lucu yang terdengar “orisinil”, maka hal ini bisa meningkatkan kemampuan anda untuk selalu diingat – dan (kelak) direkrut. Sebuah humor mengenai suatu hal memalukan yang pernah anda alami, dapat menciptakan keterikatan antara pelamar kerja dan pewawancara. Seorang pria benar-benar menghibur saya dengan menanyakan karyawan seperti apa yang saya cari, kemudian mendengarkan jawaban saya, lalu berkata “Saya tahu persis orang yang tepat untuk pekerjaan itu”. Tertawa (tetapi tidak terlalu berlebihan) saat pewawancara melontarkan sebuah gurauan juga memberikan penilaian bahwa anda memiliki selera humor.

    Terlihat sedemikian “menggebu-gebu” untuk memperoleh pekerjaan juga bisa jadi menguntungkan bagi anda nantinya. Saya ingat ada seorang kandidat yang menyelesaikan wawancara dan meninggalkan kantor saya, namun lima menit kemudian berlari kembali dan bertanya, “Sampai dimana saya tadi? Apakah ada yang belum sempat anda tanyakan yang mungkin terpikirkan selama satu jam nanti?”. Dia sudah memperoleh nilai yang tinggi di daftar saya, namun inisiatif yang tidak terduga semacam ini meyakinkan saya bahwa dia sedemikian “bertekad” untuk memperoleh pekerjaan. Seolah-olah tidak ada jawaban “tidak” untuknya. Saya terkesan.

  4. Hati-hati dengan “jebakan”.

    Beberapa pewawancara mengakui bahwa mereka berusaha untuk membujuk pelamar kerja untuk melakukan kekeliruan. Pertemuan dalam suasana yang rileks, adalah suatu kesempatan bagus untuk mengetahui apakah pelamar sedikit “mengendur” dan mengatakan sesuatu yang tidak sepantasnya mengenai bosnya sebelumnya.

    Penawaran secangkir kopi yang terlihat “wajar” sebenarnya merupakan tes “tersembunyi” untuk mengenali kepribadian seseorang. Misalkan, saat seorang pelamar untuk posisi sales datang di kantor, saya akan menawarinya untuk membuatkan kopi. Namun saya akan menilai buruk jika dia menerima tawaran tersebut. Saya merasa dia tidak terlalu baik untuk berada di posisi tersebut, karena pelanggan tidak terlalu suka untuk menunggu salesman yang akan memberikan penawaran.

  5. 50% keputusan berasal dari petunjuk non-verbal.

    Menjaga kontak mata dengan pewawancara adalah satu aspek tunggal paling penting dalam menciptakan kesan baik, karena hal ini menggambarkan kejujuran. Elemen-elemen penting lainnya adalah duduk dengan maju ke depan, memposisikan diri di ujung kursi dapat menyiratkan antusiasme. Tersenyum dan menjaga tangan di atas meja dan bersikap rileks, melambangkan rasa percaya diri.
  6. Menyempatkan diri mencari informasi mengenai perusahaan yang dituju (setidak-tidaknya) selama 5 menit sebelum wawancara lebih berharga dari seluruh point yang anda tuliskan dalam resume.

    Pengenalan dengan produk-produk dan layanan-layanan pada suatu perusahaan merupakan suatu nilai “jual” yang tinggi. Memperoleh informasi pada suatu perusahaan lewat cara yang tidak lazim juga dapat menimbulkan kesan yang kuat.
  7. Pertanyaan yang anda ajukan juga turut mengungkapkan jatidiri sebagaimana pertanyaan yang anda jawab.

    Meski salah seorang pelamar memberikan presentasi yang tidak begitu baik dibandingkan dengan dua orang lainnya, dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan bermakna dalam wawancara. Dia memperlambat sesi diskusi dengan mengajukan beberapa pertanyaan susulan (follow-up). Saya terkejut dengan sedemikian tekunnya dia mendengarkan apa yang saya katakan – kebanyakan pelamar lebih suka berbicara daripada mendengar.Pertanyaannya, seperti “Bagaimana saya nantinya melakukan pekerjaan sehari-hari di kantor anda ini?”, tidak hanya mengesankan seorang karyawan baru yang ingin menggambarkan anda di posisi kerja tersebut, namun juga menunjukkan ketertarikan yang kuat pada pekerjaan yang sebenarnya. Jika anda menargetkan posisi yang cukup tinggi di dalam jenjang karir perusahaan, anda akan memberikan kesan mendalam bagi pewawancara dengan menanyakan hal-hal mengenai pimpinan perusahaan, prosek anda nantinya dalam penjenjangan karir, dan kriteria penilaian terhadap diri anda, serta budaya kerja perusahaan. Pertanyaan yang anda ajukan juga merupakan kesempatan bagus untuk menunjukkan pengetahuan anda mengenai perusahaan, meliputi produk-produknya dan bidangnya secara keseluruhan.

    Pertanyaan yang harus selalu anda ajukan adalah “Kapan saya dapat memperoleh jawaban dari anda?”. Para pewawancara suka melihat tatapan ceria di mata anda dan mendengarkan hasrat anda untuk memperoleh pekerjaan tersebut lewat kata-kata anda di akhir wawancara. Jadi pertanyaan itu meninggalkan kesan bahwa anda memang benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut.

    Komentar yang antusias pada suatu akhir wawancara juga dapat melapangkan jalan anda untuk memperoleh tawaran kerja. Satu alasan utama saya merekrut seorang konsultan adalah karena ia menyiratkan ketertarikan. Kalimat terakhir yang ia ucapkan ke saya adalah, “Inilah apa yang benar-benar saya inginkan. Ini dia akhirnya”.

  8. Susulan (follow-up) dapat membuat perbedaan.

    Cara seseorang menangani panggilan telepon susulan dapat membuat suatu kesan yang mendalam. Saya menyukai seseorang yang cukup cerdik untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk menelepon – yaitu sore hari – karena hal ini menunjukkan ia memiliki bakat sales untuk mendeteksi adanya celah kesempatan dan memanfaatkannya. Tenggang waktu untuk memberikan catatan(note) atau panggilan telepon adalah sangat penting. Jika saya tidak mendengar panggilan susulan dari seseorang dalam jangka waktu 4 hari sejak wawancara, maka dia telah “lewat”.

    Meski cuma sedikit pelamar kerja yang melakukannya, mengirimkan suatu surat/catatan susulan jika hasil akhirnya negatif, juga memberikan kesan yang positif. Seseorang yang tidak lolos seleksi, mengirimkan suatu catatan berisi, “Meski saya tidak lolos, saya sungguh senang telah berbincang-bincang dengan anda. Saya tetap tertarik untuk mempelajari kesempatan-kesempatan lain yang mungkin anda merasa sayalah orang yang tepat untuk itu”. Jadi saya simpan profilnya hingga terdapat pembukaan suatu posisi lain yang lebih baik, lalu memanggilnya kembali.

Sumber:
Sharly Tan, “Truths you are not told about interview”, Rimbun Job Agency, 2007.



Artikel: © 2007 Sharly Tan.
Saduran: © 2008 Arief Hendra Saptadi.
Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Dilarang menyalin sebagian atau seluruh isi naskah tanpa ijin tertulis dari Penerbit/Penulis/Penyadur.

6 Tanggapan to “8 Rahasia yang Disimpan Pewawancara Kerja”

  1. dian Says:

    50% keputusan berasal dari petunjuk non-verbal = setuju
    Anda bisa lebih memikat pewawancara dengan memberikan jawaban yang “salah”. = menarik untuk dicoba
    Pewawancara dapat menguji anda jika mereka curiga adanya kebohongan di dalam resume = ati2 di bagian ini

  2. ariefhs Says:

    thanks buat responnya. Saya mencoba masuk ke situs mas dian (www.diansoelistyo.co.cc) tapi kok malah dimintai username sama password ya? Aneh….😐

  3. dian Says:

    Maklumlah pak..namanya hosting gratisan,,desain situsnya juga masih acak2an..sekarang saya sedang coba utak-atik joomla..
    mudah2an dalam waktu dekat, semua content dapat segera selesai,,sehingga dapat langsung saya upload ke internet..
    kalau mentok,,ya pake web builder yang dah da aja,,gitu aja kok repot ya..

  4. ariefhs Says:

    Oh gitu ya. Saya pas lagi mampir aja waktu itu. Silakan mas, saya tunggu proses pengembangan situsnya.

  5. dian Says:

    Makasih pa buat doanya…tapi,,mungkin kelarnya agak lama..soalnya nyambi si pak…nyambi browsing n chatting😀

  6. ariefhs Says:

    yah selamat browsing and chatting ya. wah saya udah lama nggak update blog. kayaknya baru mau cari bahan dulu nih buat dipampangkan disini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: