Trial and Error

Belajar secara otodidak, tentu tidak akan lepas dari upaya coba-coba. Harap maklum. Belajar secara lepas, tanpa adanya bantuan dari seorang tutor, dengan cukup mengandalkan nalar/logika, dokumentasi plus koneksi internet untuk berinteraksi, pastilah akan jauh lebih membutuhkan kemandirian. Hasil akhir dari proses pembelajaran tersebut, akan sangat bergantung dari seberapa lama seseorang tersebut mengalami “jatuh bangun”. Dengan kata lain, “jam terbang” seseorang akan sangat berpengaruh.

Nah, hal yang sama juga saya alami saat belajar nge-blog. Semuanya dipelajari secara otodidak. Tidak ada tutor. Teman-teman belajar saya selama ini adalah sesama staf pengajar dan karyawan. Ada juga beberapa pemberi masukan dari kalangan akademis mahasiswa. “Jam terbang” saya juga untuk saat ini terhitung masih sangat minim. Akun blog ini bahkan baru saya buat sekitar pertengahan Maret lalu.

Kendati demikian, saya sudah cukup banyak melakukan “utak-atik” untuk lembaran harian ini. Tentu saja ukuran “cukup banyak” ini relatif. Dalam hal ini saya membandingkannya dengan sedemikian padatnya aktivitas sehari-hari dan sedemikian menumpuknya beban pekerjaan harian. Bahasa sederhananya, “Kok ya masih sempet2nya bikin blog?”🙂

Mengenai “utak-atik” tadi. Ada beberapa yang berhasil. Tampilan sebagaimana yang anda lihat kini di situs ini mencerminkan beberapa diantaranya. Namun ada juga yang gagal. Terutama dalam hal widget. Meski – menurut saya – bukan hal yang utama, tetapi keberadaan dari widget tersebut cukup banyak memberikan informasi, atau setidaknya tampilan yang menarik. Beberapa widget yang gagal dipasang, dan sekarang termasuk ke dalam wishlist saya, adalah:

  1. Jam analog, lengkap dengan penunjuk jam, menit dan detiknya.
    Saya sudah mencoba Clocklink, tapi belum berhasil.
  2. Shoutbox. Kotak untuk meninggalkan pesan.
    WordPress memang menyediakan Meebo, tetapi menurut saya itu lebih berbentuk media web untuk chatting lintas IM (Instant Messenger). Sebenarnya yang paling cocok adalah Shoutmix, sayangnya setelah skrip disalin, maka kotak tersebut malah muncul di halaman lain (lewat sebuah link), bukan di halaman utama situs ini.
  3. Kalender harian.
    Kalender sebagaimana yang anda lihat di halaman depan, jika dicermati, sebenarnya menunjuk kepada tanggal posting untuk setiap artikel. Sementara yang saya inginkan adalah kalender dengan penanda tanggal yang aktif saat ini.

Setelah menelusuri FAQ dari WordPress, saya menemukan jawaban untuk masalah-masalah di atas. Situs WordPress ini tidak mendukung aplikasi berbasis JavaScript. Para staf administrator sangat memperhatikan masalah sekuriti. Penggunaan JavaScript memungkinkan adanya “celah” pada sistem keamanan. Seluruh aplikasi JavaScript tersebut hanya bisa berjalan pada instalasi WordPress di web hosting lain, bukan di situs WordPress ini.

Saya masih penasaran. Masih adakah cara lain untuk mendapatkan tiga widget seperti yang saya inginkan tadi? Jika anda mengetahui, silakan berbagi lewat kotak komentar di bawah ini. Terima kasih.

4 Tanggapan to “Trial and Error”

  1. arafah Says:

    Untuk Blog yang nebeng di wordpress (http://www.namaanda.wordpress.com) emank ngak bisa di pasang Shoutmix pak. Saya juga dulu nyoba mencari, biasa googling Pak. Tapi emank ngak bisa. Kalo punya saya juga dibangun pake WP pak, tapi dah mengukung pemasangan shoutmix. Kalo yang keduanya saya lum nyoba Pak,
    Heheheheh…!!
    Keep Blogging Pak !!
    Harapannya mudah2an semua Dosen Goblog (Go Blog=NgeBlog) kayak Bapak !!!

  2. ariefhs Says:

    Terima kasih atas infonya ya Mas. Jadi pingin hosting sendiri nih🙂 Wah, berarti saya secara resmi sudah menerima gelar Dosen Goblog ya!😀

  3. dian Says:

    Bagusnya sih jangan pake wordpress pak, kurang gaul desainnya gitu…mungkin enaknya pake joomla/mambo dulu untuk desainnya..so dari situ kita bisa sepuas hati menambah n mengurangi plugin. setelah hasilnya final, baru kita upload ke internet…
    itung2 ngirit biaya internet pak…(maklum biaya2 untuk akses TI di negara kita masih lumayan mahal dibanding negara lain)…hotspot aja masih bisa dihitung…

  4. ariefhs Says:

    Wadhuh, kalo gaul atau nggak itu sepertinya relatif ya Mas Dian🙂 Tapi tampilan situs ini memang dari dulu tidak pernah saya ubah. Ini memang tampilan default-nya. Saya lihat pilihan design template yang disediakan oleh WordPress cukup banyak. Belum termasuk situs pihak ketiga. Bagus2 lagi. Tapi motivasi awal dari memiliki situs blog ini sebenarnya adalah ingin lebih banyak belajar menulis, Mas. Jadi lebih condong ke content. Saya memilih WordPress karena cukup familiar bagi orang awam seperti saya ini. Pingin yang praktis aja, gitu. Kalo masalah ngirit akses internet, selama ini saya juga cukup ngirit kok Mas. Sebagian besar artikel yang dimuat di situs ini, saya ketik dulu secara offline di kos pake Blogdesk (ini sudah pernah dibahas di situs ini). Begitu kelar, langsung di-upload lewat komputer kantor. Terima kasih atas masukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: